Kamis, 07 Maret 2019

My first and last love

Ketika  aku  mulai  menatap  langit  pagi  nan  biru  yang  menyapa  bersama  langkah  kaki  ini  dan  mulai  bergerak  memasuki  sebuah  gedung  perusahaan  yang  menjulang  tinggi  di  hadapanku  saat  ini-ya  aku  seorang  karyawati  sebuah  perusahaan  yang  bergerak  di  bagian  bidang  pemasaran  khususnya  luar  negeri  dan  sampai  aku  di  kejutkan  dengan  suara  lengkingan  seorang  wanita  yang  sedang  memanggil  namaku  hingga  membuatku  membalikkan  badan  untuk  menyapanya.
''Louisa  Lynch.''
Aku  tersenyum  manis  mendengar  suara  itu,  suara  sahabatku  satu-satunya  di  perusahaan  ini.
''Morning  Emily  Cort.  Kau  selalu  selangkah  lebih  cantik  dari  aku.''  Aku  menggodanya  dengan  sedikit  gerakan  tangan  ke atas  dan  bawah.  Emily  terlihat  menyipitkan  kedua  matanya  dan  berusaha  untuk  membalas  godaan  itu.  ''Kenapa  aku  merasa  sepertinya  kita  akan  bertemu  dengannya.''  katanya  sambil  menyikutku  lembut  dengan  sikunya.  Aku  dapat  merasakan  bahwa  sepertinya  pipiku  mulai  memerah  hanya  dengan  memikirkannya  saat  ini  tapi  dengan  cepat  aku  meraih  lengan  Emily  dan  langsung  menariknya  untuk  berjalan  masuk  ke  dalam  perusahaan.

Kami  berdua  sedang  menunggu  di  depan  pintu  lift  sampai  terdengar  bunyi  ''ting''  dan  pintu  lift  terbuka.  Aku  melihatnya  pagi  ini  di  antara  beberapa  orang  yang  sedang  berdiri.  Tinggi  badannya  terlihat  mencolok  bila  di  bandingkan  dengan  beberapa  orang  di  sekitarnya.  Kami  melangkah  masuk  dan  berdiri  tepat  di  depannya.  ''Kau  tidak  ingin  menyapanya  atau  apapun  itu.''  goda  Emily.  Aku  hanya  menarik  napas  panjang  sambil  memperhatikan  ke  bawah  ke  jari-jari  yang  mulai  dingin  karena  terlalu  gugup.  Harus  aku  akui  keberadaannya  begitu  mendominasi  sampai-sampai  tidak  ada  suara  di  dalam  lift  yang  sedang  bergerak  naik  ke  atas.  Ketika  aku  mulai  mengatur  napas  ini  agar  kembali  normal,  pintu  lift  terbuka  dengan  lantai  lima  dimana  tempatku  bekerja.  Kaki  ini  melangkah  keluar  dan  aku  tidak  tahu  kenapa  aku  membalikkan  badan  hanya  untuk  melihat  raut  wajah  dingin  yang  terpasang  di  wajahnya  yang  tampan  itu.

3 komentar: